Masih Ada Cinta Dihatiku
Aku sudah terlalu tua untuk
turun dijalanan. Tubuhku semakin lemah. Tulang dan lidahku kaku, bosan mencaci.
Lambat laun, suaraku mulai serak. Tanganku tak lagi mampu lemparkan batu.
Menggenggam bambu dan sebilah kayu. Menerjang pagar kawat berduri. Menjebol
gerbang gerbang besi. Membongkar jajaran laskar berseragam hitam.
Aku, tak kuat lagi. Berlari.
Menyeret spanduk, tunggang langgan dikejar peluru senapan. Dan akhirnya ambruk.
Mengerang. Meraung. Seperti babi tertembak. Di injak-injak. Tanpa harga diri.
Diseret. Ditendang seperti binatang.
Serupa hujan tadi sore,
ingin kucurahkan mendung menggantung dimataku. Ketika hati nurani tak mampu
berdiri sendiri, para orang tua mulai pikun. Bocah-bocah sariawan menelan makna
sebuah perjuangan. Pengorbanan tinggalkan kenangan yang dirayakan dengan pesta
pesta. Tumpahan darah hanyalah kekacauan sejarah silam. Kelam dalam
riwayat-riwayat sekarat ditangan penguasa. Sebab sejarah adalah milik
penguasa bersama citranya.
Sungguh malang ingatan-ingatan sebatas
tangan megenggam pedang. Serupa kawanan iblis berbaris disuguh asap
kemenyan. Kemana arah mata memandang, menyantap rakus. Buas dan haus, laksana
serdadu Buyar dari tangsi tangsi, selepas tunaikan tugas mulia dari mata kepala
yang menggelinding kebawah dada.
Mataku lelah menjadi saksi
mengalirnya darah beberapa tahun lalu. Bersama darah darah yang meresap kedalam
retakan tanah delapan windu lamanya menjadi angker. Menorehkan sejarah panjang
dalam catatan catatan yang mulai dilupakan.
Kini biar kutempuhi jalan diam
dijeruji hati. Tak lagi ahli strategi atau tukang teriak di garda depan
demonstran. Biarlah aku menjadi petani yang masih tetap mencintai negeri ini.
Dengan sepenuh hati.

0 komentar:
Posting Komentar